12 Mei 2019 19:59:00
Ditulis oleh cokrowati

Muroja'ah Fiqh, Warga dan Jama’ah Masjid Cokrowati Bisa Sambil Menunggu Berbuka

cokrowati-tambakboyo.desa.id (12/5). Masjid Al-Hidayah Cokrowati selalu mengagendakan kegiatan khusus setiap Bulan Romadlon, tepatnya setiap menjelang berbuka puasa. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sebelum berbuka, tahun 2019 ini juga ada penyampaian materi keagamaan, yang narasumbernya bergiliran. Selain materi keagamaan menjelang berbuka, juga ada pembagian ta’jil (menu berbuka puasa) kepada jama’ah masjid. Ta’jil ini merupakan kiriman dari seorang dermawan Tambakboyo, Haji Imron. Selain kiriman dari Haji Imron, juga ada ta’jil yang bersumber dari sedekah warga Desa Cokrowati, yang waktunya digilir agar tidak terjadi penumpukan atau kekosongan ta’jil.

Sambil menunggu adzan maghrib yang merupakan pertanda berbuka, selama kurang lebih tiga puluh menit, jama’ah diberikan siraman materi keagamaan. Salah satu pengisi materi, Turmudzi, memilih memberikan materi secara bersambung, yaitu yang terkait ilmu fiqh madzhab Syafi’iyyah. Ditemui cokrowati-tambakboyo.desa,id pada Sabtu, 11 Mei 2019, Turmudzi yang juga menjabat sebagai sekretaris desa ini menjelaskan bahwa materi yang diberikan hanya seputar Thoharoh dengan segala hal yang berhubungan dengannya, lalu dilanjut dengan materi sholat, zakat, puasa, dan Al-Qur’an serta sejarah. “Materi ini telah saya sampaikan pada tahun 2015 silam, dan apabila jama’ah telah mengetahuinya, semoga ini bisa untuk muroja’ah (mengulang) atau menambah pengetahuan tambahan,” tutur pria berkaca mata itu mengawali materinya.

Di sela-sela penyampaian materinya, pria yang pernah menjabat sebagai sekretaris Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LTM PCNU) Tuban ini juga memberikan pancingan pertanyaan kepada jama’ah untuk pengetahuan. “Misalnya jari kita terkena tai ayam. Oleh karena air kran berada jauh dari kita, dan yang ada hanya teh atau Fanta, maka apakah bisa suci, bila tai ayam di jari kita tersebut kita bersihkan dengan teh atau Fanta hingga tai ayamnya hilang?

 Berikut ini sebagian materi yang disampaikan kepada jama’ah:

 Thoharoh adalah membersihkan diri, pakaian, tempat, dan benda-benda lain dari hadats dan najis menurut cara-cara yang ditentukan oleh Syari’at Islam. Thoharoh atau bersuci adalah syarat wajib yang harus dilakukan dalam beberapa macam ibadah seperti sholat, membaca Al-Qur’an, thowaf, dan lain-lain.

Thoharoh ini ada dua macam, yaitu :

1) Thoharoh rasional (Hissiyyan): yaitu thoharoh yang bersihnya objek bisa diketahui oleh panca indra atau dinalar secara akal, yaitu membersihkan najis dan istinja’ (cebok), misalnya :

-     Najis di tangan, maka yang dibersihkan adalah tangan yang terkena najis tersebut.

-     Orang buang air, maka yang dibersihkan adalah tempat keluarnya kencing atau kotoran tersebut.

Oleh karena thoharoh ini bisa dinalar secara akal, maka tidak dibutuhkan niat dalam melakukannya.

2) Thoharoh irasional (Ma’nawiyyan): yaitu thoharoh yang bersihnya obyek tak bisa diketahui oleh panca indra, atau tidak bisa dinalar secara akal. Ini murni berasal dari aturan Tuhan. Misalnya, wudlu, mandi, tayammum. Contoh:

-     Orang kentut, yang kentut adalah duburnya, tapi yang nantinya dibasuh adalah wajah, tangan, rambut, kaki, atau berwudlu.

-     Orang bersentuhan dengan lawan jenis, yang bersentuhan adalah kulit tertentu, tapi nanti yang dibasuh adalah anggota wudlu.

-     Yang mengeluarkan sperma adalah alat kelaminnya, tapi yang diguyur air adalah seluruh anggota tubuh.

Oleh karena thoharoh ini tidak bisa dinalar akal, maka dibutuhkan niat untuk keabsahannya.

 Thoharoh ini ada bermacam-macam, yaitu wudlu, tayammum, mandi besar, istinja’, atau membersihkan najis. Alat yang dipakai thoharoh adalah air, debu, dan tanah, tergantung macam thoharohnya.

Thoharoh meliputi empat macam, yaitu:

  1. Mandi
  2. Wudlu
  3. Tayammum
  4. Dibagh (Samak)

 Alat untuk digunakan thoharoh juga ada 4, yaitu:

  1. Air
  2. Debu
  3. Batu atau sejenisnya
  4. Dabigh (untuk memproses dibagh)

 

Air

Salah satu alat thoharoh adalah air. Oleh karena fungsi thoharoh adalah mensucikan dan membersihkan, maka air yang dipakai juga harus sesuai dengan fungsi tersebut, yaitu air yang suci sekaligus bisa mensucikan. Karena, air itu ada bermacam-macam, yaitu:

  1. Suci Mensucikan (Air Muthlaq)
  2. Suci Tidak Mensucikan (Air Musta’mal dan Mutaghoyyir)
  3. Air Najis / Mutanajjis (Air terkena najis)
  4. Air menurut penyebutan, namun bukan air menurut istilah: Air liur, air kelapa, air raksa, air aki, dan lain-lain.

1. Suci Mensucikan

Adalah air yang suci sekaligus sah digunakan bersuci, baik mensucikan hadats atau najis. Air ini disebut juga sebagai air Thohur. Air jenis ini disebut Air Muthlaq, dan mencakup 7 jenis air, yaitu:

(1). Air sumur/mata air; (2). Air laut; (3). Air sungai; (4). Air danau/telaga; (5). Air hujan; (6). Air salju; dan (7). Air embun.  

Tujuh air di atas adalah suci sekaligus bisa mensucikan, selama belum berubah sifat keasliannya. Adapun apabila sudah berubah sifat keasliannya, maka bisa disebut sesuai kondisi terbarunya. Misalnya air sumur yang terkena kotoran sapi, disebut air mutanajjis/air najis. Air sumur yang telah dipakai bersuci berubah nama menjadi air musta’mal. Air sumur yang tercampur minyak wangi berubah nama menjadi air mutaghoyyir, dan lain sebagainya.

2. Suci Tidak Mensucikan

Adalah air yang suci namun tidak bisa digunakan untuk mensucikan. Air jenis ini ada dua, yaitu:

(2.1) Air Musta’mal

Adalah air yang sudah dipakai pada fardlu thoharoh, yaitu air basuhan pertama pada anggota wudlu atau mandi besar, bukan basuhan kedua atau ketiga, bukan basuhan sunnat atau basuhan pada selain anggota wudlu.

Air itu disebut musta’mal apabila:

1. Apabila sedikit, kurang dua qullah, atau kurang dari 216 liter.

Maka apabila ada air musta’mal sedikit, ditambah air musta’mal sedikit, ditambah sedikit hingga mencapai 216 liter, maka sudah bukan disebut musta’mal.

2. Apabila telah dipakai untuk mensucikan sesuatu yang wajib, bukan yang sunnat atau yang tak ada hukum fardlu.

3. Apabila telah lepas dari tubuh atau media yang dicuci.

Selama air belum lepas dari anggota wudlu atau mandi besar, maka status air belum musta’mal.

Lepas dari anggota wudlu ini adalah:

-     Telah lepas dari wajah, meskipun mengenai tangan, meskipun lepasnya tersebut karena mengalir/merambat.

-     Telah lepas dari tangan kanan, meskipun mengenai tangan kiri, atua sebaliknya, meskipun lepasnya tersebut karena mengalir/merambat.

-     Telah lepas dari tangan kiri meskipun mengenai kaki, meskipun lepasnya tersebut karena mengalir/merambat.

-     Telah lepas dari kaki kanan meskipun mengenai kakai kanan, atau sebaliknya, meskipun lepasnya tersebut karena mengalir/merambat.

Adapun untuk mandi besar, air bisa dikatakan lepas dari anggota tubuh apabila telah tidak berada di tubuh. Apabila air mengalir dari wajah, merambat ke leher, misalnya, maka air tersebut belum musta’mal, dan hukum hadats leher juga hilang. Demikian pula apabila dari leher tersebut mengalir lagi ke dada, maka hadats dada juga hilang.

4. Apabila tidak dimaksudkan untuk ightirof (mengambil air dengan tangan/nyiduk/nyawuk).

Ini kasusnya terjadi pada misalnya:

Pak Muslim wudlu dengan air di dalam ember yang kurang dari dua qullah. Dia mengambil air dengan tangannya, lalu digunakan untuk membasuh wajah. Setelah rata, giliran anggota wudlu berikutnya adalah tangan. Nah, di sinilah niat/maksud itu diperlukan. Apabila Pak Muslim tidak memaksudkan untuk ightirof (mengambil air dengan tangannya), maka ketika tangan itu tercelum air di ember, secara otomatis tangannya sudah terbasuh sebagai fardlu wudlu. Dan apabila tangan itu dikeluarkan dari ember, maka air di dalam ember dihukumi musta’mal. Berbeda ketika misalnya Pak Muslim memasukkan tangannya dengan maksud untuk ightirof, maka air di ember tersebut belum musta’mal.

Contoh air musta’mal adalah:

Pak Muslim wudlu. Dia membasuh pipi kanan (misalnya), yaitu masih basuhan pertama di anggota wudlu wajah. Setelah air mengguyur, tentu air ini menetes ke bawah. Nah, tetesan inilah disebut air musta’mal. Jadi apabila tetesan ini kita tampung dengan tangan, lalu kita pakai membasuh pipi kiri, maka tidak sah, karena air musta’mal adalah air yang tidak mensucikan.

Sedangkan seandainya air tetesan yang musta’mal ini menciprati air di dalam ember yang kurang dari dua qullah, maka air dalam ember tersebut bukan secara otomatis menjadi air musta’mal, karena air di ember bukan bekas basuhan fardlu wudlu. Akan tetapi, air di ember tersebut dihukumi air mutaghoyyir taqdiri, yang akan dijelaskan di topik Air Mutaghoyyir.

Air bisa dihukumi musta’mal sebagaimana dijelaskan di atas apabila volumenya kurang dari dua qullah. Apabila mencapai dua qullah, maka status musta’mal menjadi hilang, dan berganti menjadi air muthlaq. Jadi air musta’mal satu qullah ditambah air musta’mal satu qullah, menjadi air dua qullah yang muthlaq yang suci dan mensucikan.

Demikian pula misalnya air yang melebihi dua qullah, seperti air dalam jeding atau bak mandi, maka sah wudlu atau mandi dengan membiarkan bekas basuhan masuk kembali ke dalam jeding tersebut, karena hal itu tidak mengubah status air.

Air musta’mal ini, selain tidak bisa digunakan untuk mensucikan hadats, juga tidak bisa digunakan untuk membersihkan najis.

(2.2) Air Mutaghoyyir

Adalah air yang berubah sifat atau keadaannya, baik secara nyata bisa dibuktikan dengan panca indra atau hanya perkiraan.

Dengan demikian, mutaghoyyir itu ada dua macam, yaitu:

A. Mutaghoyyir Hissiyan (Nyata)

Yaitu perubahan yang terjadi pada air, yang bisa dibuktikan secara panca indra, meliputi  rasa air, atau bau air, ataupun warna air.

Nah, air yang berubah secara nyata ini hukumnya tidak sah digunakan bersuci, seperti air yang berubah karena terkena tinta, terkena minyak wangi, atau terkena kecap. Demikian juga misalnya Sprite, Fanta, Soda, Es Teh, kopi, Es jeruk, dan lain-lain.  Air mutaghoyyir ini, selain tidak bisa digunakan untuk mensucikan hadats, juga tidak bisa digunakan untuk mensucikan najis.

 B. Mutaghoyyir Taqdiriyyan (Secara Hukum)

Yaitu perubahan yang terjadi pada air, yang tidak bisa dibuktikan secara panca indra, karena baik rasa air, bau air, maupun warna air tidak mengalami perubahan.

Perubahan jenis ini bisa terjadi karena air kurang dua qullah yang tercampuri air musta’mal, atau tercampuri seperti air mawar yang sudah hilang baunya. Untuk mengkalkulasi apakah ada perubahan secara taqdiri atau tidak, maka kita harus membuat sampel atau prakiraan. Yaitu, seandainya air musta’mal yang mencampuri tersebut adalah tinta, apakah sampai mengubah warna air atau tidak; seandainya air musta’mal yang mencampuri tersebut adalah air berbau tajam, apakah sampai mengubah bau air atau tidak; seandainya air musta’mal yang mencampuri tersebut adalah air yang rasanya menyolok, apakah sampai mengubah rasa air atau tidak. Apabila warnanya berubah, atau apabila baunya berubah, atau apabila rasanya berubah, maka air yang terciprat air musta’mal tersebut dihukumi air mutaghoyyir taqdiri. Nah, berarti, semakin banyak yang menciprati air dalam ember, tentu potensi perubahannya akan besar.

Kebanyakan realita di masyarakat awam, bagi yang wudlunya masih di padasan atau gentong yang ada saluran airnya yang diisi dengan timba dari sumur, maka akan jelas bahwa padasan itu apabila kita celupi tangan, maka tidak berakibat menjadi musta’malnya air tersebut, karena tangan kita sedang tidak berwudlu. Atau, ketika kita menimba air dari dalam sumur untuk mengisi padasan/gentong, maka tangan kita yang tercelup ke timba tersebut tidak menyebabkan musta’mal, karena kita tidak sedang berwudlu, tapi kita sedang mengisi padasan.

Air yang berubah secara taqdiri karena terciprati atau tercampuri air musta’mal ini, juga berlaku untuk air yang terciprati oleh air mawar yang telah hilang bau, rasa, dan warnanya.

Air bisa dihukumi musta’mal, apabila air bekas wudlu atau mandi tersebut volumenya kurang dari dua qullah atau 216 liter. Volume dua qullah ini, apabila kita buatkan tempat, maka ukurannya adalah: Panjang (p) : 60 cm; Lebar (l) : 60 cm; Tinggi (t) : 60 cm.

Rumus volume adalah p x l x t

=    60 x 60 x 60      =    216.000 cm3

=    1 liter                =    1.000 cm3

=    216.000 cm3    =    216 liter

Air-air mutaghoyyir ini, selain tidak bisa digunakan untuk mensucikan hadats, juga tidak bisa digunakan untuk mensucikan najis yang menempel di tangan kita.

Air Mutaghoyyir ini apabila semula kurang dari dua qullah, kemudian ditambah air menjadi dua qullah, maka hukum taghoyyurnya akan hilang apabila perubahannya juga ikut hilang, baik hilang secara hissiyyan ataupun taqdiriyyan.

Demikian pula misalnya air yang melebihi dua qullah, seperti air dalam jeding atau bak mandi, maka sah wudlu atau mandi dengan membiarkan bekas basuhan masuk kembali ke dalam jeding tersebut, karena hal itu tidak mengubah status air. Bersambung.... (trm)


image
Gambar Tambahan 1 Lihat Gambar
image
Gambar Tambahan 2 Lihat Gambar
Kategori

Bagikan :

comments powered by Disqus