04 Januari 2019 23:13:14
Ditulis oleh cokrowati

Banyu Biru (Part - 4)

Banyu Biru – part 4

(Oleh : Ning Zulfania Tsuroyya, siswa SMK Darun Najah Tambakboyo)

 

Sang pengabdi, itulah kami. Dimana tugas memerintah di situlah kami berpijak.... Kami tak mempunyai rumah, karena hutan adalah rumah kami di mana tanah yang menjadi alas dan langit menjadi atap. Hidup kami mewah, makan serba organik tanpa bahan pengawet dan penyedap.... Hentikan menyebut saudaramu sendiri generasi micin karena mereka manusia buatan Tuhan bukan pabrik penyedap.....Dan, jangan melulu menyalahkan micin karena segala kesalahan mutlak manusia yang melakukan.  Boleh dirimu berbuat jahat, berbuat salah, dan maksiat, namun jangan pernah menyalahkan seseorang atas segala sesuatu yang menimpamu.... 

Dan, kali ini.... Sekali lagi Rabbku mengabulkan inginku.... Karena suatu hal.yang terjadi di tanah airku, di mana keluhan bumi mampu memporak-porandakan segalanya, surat tugas kembali menyebut namaku. Dan di mana saja kakiku berpijak, Allah selalu mempertemukan aku dengan bintang yang bersinar di antara bintang yang redup.

Kuperhatikan ia dari kejauhan, kucintai ia dalam diam... Kurindui ia dalam doa.... Kubisikkan namanya kepada bumi berharap langit mau mendengar....

 

Angin....

Bisikkan padanya bahwa cintaku tak terikat

Karena dan karena

Bumi terbelah bila sebab cantiknya

Matahari terbelah bila sebab senyumnya

Lautan bergolak bila sebab jelitanya

.

Kusembunyikan namanya dalam Ba'-nya basmalahku

Kutitipkan kesejatiannya dalam Qof-nya hauqolahku

Kubungkus batinnya dalam Ha'-nya hamdalahku

 

Angin....

Bisikkan padanya bahwa cintaku tak terikat warna-warna

Cintaku adalah tali ruhku yang tak berbadan ruang dan waktu

 

Angin, bisikan padanya bahwa selalu terlintas wajah teduhnya 

Dalam sepertiga malamku

 

 

Segala senandung rindu nan syahdu mengalun lembut dalam sanubari kalbuku. Terbayang bidadari bermata bening yang kini sedang dalam pencarian hidupnya. Bidadari yang secara perlahan telah membawa pergi hatiku secara utuh, tanpa ada yang tertinggal. Dalam penderitaan rinduku yang tak bertepi, ku tikung cintanya dalam sepertiga malam. Bidadari bermata bening, dengan tunduk cahayamu kau mampu membuat cintaku mengikutimu.

Ku pejamkan mata, kuhilangkan wajahnya dari pikiranku. Ku ingin melupakan ia barang sejenak... Namun apalah daya semakin kupejamkan mata wajahnya kian lekat dalam ingatan.

.

Aku mulai menderita dalam rasa ini, rasa rindu yang tak pernah tahu dimana tempat ia berlabuh.

Kuberanjak, kuputar kran kuambil wudlu, kemudian kubentangkan sajadah di sepertiga malam..

" Ya Rabbana.... Aku mencintai kekasihmu. Dan kini aku juga mencintai anugerahmu karenamu.

Ya Rabbana... Ampuni aku yang telah menikung cintamu. Namun, aku telah jatuh cinta pada kekasihmu. Maka dari itu ya Rabb, jika engkau menempatkannya di sisimu yang Maha Agung maka pertemukan aku dengan kekasih-Mu karena cinta-Mu. Dan kini di dunia yang hanya Engkau pemiliknya aku menginginkan seseorang milikmu untuk kujadikan penyempurna cintaku padaMu.

Ya Rabbana.... Jika engkau meridloi ini maka dekatkanlah, namun jika tidak maka jauhkanlah."

.

.

"Bang...." Ariko tergopoh.... Menggoyangkan badanku yang tenggelam dalam doa tiada habis.

"Kami menemukan sesuatu disana... Ayolah bang," lanjut Ariko

Segera ku beranjak, dan kukenakan sepatu serta rompi dinas.

Kami segera ke lokasi, tim kami telah menemukan seseorang yang beberapa ini kami cari.... Dialah korban nama korban terakhir yang masih hilang sebelumnya....

Setelah proses evakuasi, kami kembali membantu warga di pengungsian dan membersihkan sisa puing kerusakan akibat bencana....

"Pak... Minum...." seseorang menyodorkan sebotol air mineral  

"Maaf, saya puaaa....”

Aku tertegun.... Aku tertegun melihat siapa yang ada di hadapanku. 

"Pak.....," ia melambaikan tangannya di depan mataku

"Maaf, saya puasa."

"Saya yang minta maaf, Pak."

"Iya, he...."

"Maaf, Pak, sudah mengganggu," katanya dan aku diam.

Dia tersenyum dan berlalu.... Allah Kariim... Sedingin itukah aku.

Kubiarkan ia berlalu begitu saja, tanpa sepatah kata.

.

Malamnya ketika tidak ada jadwal kerja, aku sengaja berkeliling di sekitar posko. Entah apa yang membuatku berjalan perlahan ke sana.... Seakan kakiku melangkah dengan sendirimya menuju ke tenda, tempat ia beristirahat.... Aku tidak berharap lebih, cukup berada di luar tendamu saja itu sudah lebih dari cukup.

Grubyaaak.... Sesuatu tersandung kakiku.

"Siapa....?"

Pertanyaan lembut dari dalam tenda. Aku masih diam.

"Siapa di luar....?" suara lembut tadi berubah sedikit cemas.

"Aku."

"Siapa...?"

"Seseorang yang kau rindukan."

"Pak Deni."

Mendadak ia muncul di hadapanku....  

"Bapak ngapain di sini?"

"Aku.... Aku ada jadwal jaga sekitar sini."

"Kok gak pake seragam....?"

Waduuuh.... Aku jawab apa. 

"Kau.... Belum tidur?" tanyaku mengganti topik hehe.... Topik pembicaraan ya bukan kang Topik...  Itu Taufik bukan topik. Hehehe...

"Belum, Pak," jawabnya.

"Sama siapa di tenda....?"

"Sendiri pak.".

"Berani...?"

"Insya Allah...."

"Nggak takut apa, kalo tiba-tiba di samping ada seseorang....?" 

"Siapa, Pak...?"

"Yang kita temuin kemaren siang mungkin...."

"Bapaaaaaakk...."

"Hahahahahaha, katanya berani."

Dia diam... Mulutnya sedokit moncong ke depan. Aku berfikir keraas mengalihkan pembicaraan

"Kamu tau tidak cinta itu apa...?".

"Apa?"

"Manusia."

"Manusia...? Kok bisa...?"

"Kan Tuhan yang bikin."

"Manusia beneran...?"

"Ya iya.... Masak jadi-jadian. Kan cinta anaknya Pak Polda."

"Hahhahahahaha, oh Cinta Purbaningsih."

"Emang cinta yang mana...?"

"Cinta yang itu, Pak, perasaan yang ada di hati."

"Kalo itu di hatiku udah gak cinta lagi isinya."

"Isinya apa, pak...?"

"Isinya kamu, kamu, dan kamu lagi. Pokoknya penuh deh sama kamu."

Krik...krik....kriiik....

Mendadak hening.....

"Hahahaha, udah ah, pak.... Mau tidur besok kerja lagi."

Diapun beranjak....

"Tunggu, milikmu ketinggalan."

"Apa, Pak...?"

"Namamu, tertinggal di hatiku."

Dia tertawa lirih.... "

"Biarin nginep, Pak.... Besok aku jemput."

"Gak usah jemput, kita tukeran aja."

"Tukeran nama?."

"Tukeran cincin."

"Auk ah gelap..."

"Hahhahahahhaha...."

"Pak....jangan lupa minum obat dan baca doa sebelum tidur, hahaha..."

"Hahaha..... Biar apa...?." 

"Biar kesambetnya sembuh."

"Hahahahhahaha....."

Dia tersenyum sambil geleng-geleng, dan kemudian beranjak.

"Nay...."

"Iya...."

"Aku mau bertanya sesuatu."

"Apa itu, Pak....?"

"Hal Fata Fikum...? Famaa Khalla Lana....? "

(apa kau sudah punya calon suami..? Sebab aku belum memiliki calon istri.)

Nawa tidak menjawab, dia hanya menatapku sebentar kemudian menunduk. Jantungku berdebar, seakan berkejaran dengan angin....

"Maaf aku tidak bermaksud mengganggumu. Maafkan aku dek...istirahatlah."

"Pak..." jawabnya lirih.... Suara lembutnya Masya Allah... Laa Haula Wa Quwata Illa Billah.

"Iya...."

"Aku gak paham Bahasa Arab." toeng...toeng...toeng... Haaa.... Gagal deh usahaku. Pengennya mau romantis nembak pake Bahasa Arab, eh... Sononya gagal paham.

"Hehehe gak papa, besok aku ajarin."

"Hehehe, oke. Aku istirahat dulu, Pak."

Dia menghilang, masuk ke dalam tenda.

"Nay...."

Dia tak menjawab....

"Selamat tidur...."

.

Hening.... Kini hanya bisikan angin yang terdengar.

.

.

(BERSAMBUNG)


Kategori
comments powered by Disqus