Cerbung : BANYU BIRU (PART 3)

Cerbung : BANYU BIRU (PART 3)

Oleh: Ning Zulfania Tsuroyya (Siswa SMK Darun Najah, Tambakboyo)

 

Betapa kunanti fajar ini, udara sejuk yang selalu aku rindui masuk dalam kallbu. Kuhirup dalam dan kukeluarkan pelan-pelan. Itulah yang selalu aku lakukan sejak awal aku menginjakkan kaki di tanah apel ini.

Berjalan di remangnya lampu asrama, yang kian lama kian terang karena munculnya matahari dari ufuk timur tentunya namun di mataku matahari muncul terbit dari selatan. Hatiku bersenandung meski lisanku tak tetap hening.... Entah kenapa sejak aku di sini hatiku selalu berbunga. 

Ku lantunkan lagu lama

"The water is wide, I can’t cross o’er

And neither have I wings to fly.."

 

"Give me a boat that can carry two

And both shall row, my love and I.." 

Tiba-tiba ada suara seseorang dari belakang yang meneruskan. Karena jalan asrama yang begitu gelap aku tak bisa melihat wajahnya. Dia bilang permisi dan lewat begitu saja.... Muncul rasa takut dalam diriku, dan memutuskan lebih baik kembali ke kamar saja. 

"Mbak..." seseorang memanggilku.

Laki-laki tadi kembali. Waduh mati aku.... Kabur aja. 

"Hei... Mau kemana...?" laki-laki tadi mengejar dan berhasil meraih tanganku. 

Aku diam, aku semakin takut...  La Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadh Dholimin.

"Kau Hana kan...?"

Hana....?

"Bukan."

"Bukan. Itu...anu... Nada."

"Bukan, Pak, tolong lepaskan saya."

"Aku Pras." katanya.

Pras siapa aku gak kenaaaallll..... Pliiis lepasin aku.

"Aku Prasetyo."

Haduuuh... Siapa lagi itu.  Aku masih diam tak menjawab.

"Di sini gelap dek, kemarilah." katanya sembari menarik tanganku. Dan aku mengikutinya. Tibalah kami di bawah lampu dipojokan ruang pelatihan yang ada di asrama. Betapa kagetnya aku, sampai tak bisa berkata apa-apa.

Wajah itu yang kini ada di hadapanku, wajah yang kini tersinari oleh lampu remang sudut luar ruangan, wajah yang dalam doa selalu terlintas, wajah yang dalam diam aku rindukan.

La Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadh Dholimin..... Gumamku.

Dia tersenyum.... Aku masih diam.

"Maaf aku membuatmu terkejut."

Aku masih diam.

"Maaf ya. Maafkan aku."

"Tidak dimaafkan."

"Kan kan kan...."

Aku tak merespon....

"Ayo beli sarapan," katanya.

"Sepagi ini, Pak..."

"Jalan-jalan aja dulu."

Aku tak menjawab.

"Mau kugendong lagi?" katanya.

" Tidak usah, Pak... Saya sudah sehat."

Aku berjalan... Dan dia berjalan di belakangku. Rasanya kurang lazim kalo jalan bareng tapi tidak beriringan. Aku berhenti.... Dia pun berhenti.

"Aaa apa?" tanyanya

"Kenapa tidak jalan beriringan pak? Bukankah tujuan kita sama?"

"Begini saja lebih baik, belum waktunya jalan beriringan..."

Mak dek... Mendadak jantungku berdebar. Apa maksudnya...? Aku melanjutkan jalanku. Kami mengobrol tapi ya aneh saja rasanya. Ngobrol bukan orang disamping saya tapi di belakang saya.

Tibalah kami di alun-alun kota, kami duduk di kursi taman yang ada di alun-alun.

"kamu sudah lama di sini....?" tanyanya.

"Sejak pulang dari Puncak Jaya, Pak." Jawabku.

"Lama ya?"

"Hehehe iya."

"Betah...?"

"Iya, Pak."

"He..." 

"Bapak kapan tiba ke Jawa...?"

"Kemarin."

"Ooh...".

"Aku di sini seminggu, ada pelatihan."

"Fighting, Pak?"

Dia beranjak.... "Ayo pulang," katanya.

Jangan dulu pak....pliiis.

"Aku masuk kelas jam 07.00."

"Ini masih jam 06.00, Pak." jawabku

"Keliling yuk. Aku belum pernah ke sini."

"Ayok pak... Aku di depan." Aku berjalan bersemangat di depan... Hatiku berbunga... Meski aku tidak bisa berjalan beriringan namun aku tahu, dia ada di belakangku. Tak ada apapun yang kami bicarakan... Kami berjalan dalam keheningan, namun riuh dalam perasaan masing- masing. Entah apa yang ia pikirkan, dan entah apa yang aku pikirkan. Sejak pagi itu, kehidupanku di sini terasa semakin berwarna.... Aku giat bangun pagi dan masuk kantor. Entah apa aku tak tahu... Yang aku tahu hanyalah aku bahagia. Mengingat senyumnya saja sudah mampu membuatku bahagia.

Setiap kali aku berjalan di belakangnya, punggung tegap debgan khas seragam dan sepatu PDL nya aku merasa nyaman, cukup seperti ini saja. Aku sudah bahagia. ...

Mas, pernahkah terlintas di hatimu kenyamananku ini.

Pernahkah terlintas di fikiranmu bahagiaku ini....? Tak bisakah kau merasakan perasaanku ini...?

"Dek... " katanya tiba2.

"Iya."

"Besok aku kembali ke mako."

"Iya." jawabku

"Baik-baik ya di sini. Jaga diri.".

Aku senyum dan tertunduk, menyembunyikan malu akan perasaanku.

"Mase juga baik-baik. Jaga diri."

"Selalu."

Aku tak menjawab. Ada sesuatu yang membuat dadaku terasa penuh dan sesak.

"Mas, jalan duluan saja. Ada yang tertinggal di kantor." kataku berbalik arah dan berlari. Gak tau mau kemana. Yang penting lari... Biar dia gak tau aku nangis. Aku sedih dia mau pulang.

Malam itu, aku hanya bisa berbaring, maen HP, buka WA, buka FB, buka BBM, buka WA lagi, FB lagi, BBM lagi.... Ah Sumpek pokoknya.

"Mbak... Ada yang nyariin."

"Siapa?"

"Gak tau, Mbak."

"Bilang aku udah tidur."

"Iya, Mbak." kata Aida.

Gak lama... Aida kembali. 

"Mbak... Orang itu nitipin ini."

Aida menyodorkan kertas kecil yang dilipat. Perlahan aku buka... Ada deretan nomor di situ. Semacam nomor telepon.

"Makasih ya." Ucapku.

"Iya, Mbak," jawab Aida.

Aku penasaran dengan nomor itu... Aku simpan dan coba aku chat...

"Ping..." terkirim dan belum dibaca... Aku menunggu, penasaran, itu sebenernya nomor siapa. Tak lama ponselku berbunyi dan getar... Kupicingkan mataku sebelah... Kubuka perlahan pesan WA itu.

"Katanya udah tidur tadi." .... Haa... Ini orang siapa sih...? Aku stalking sebelum kubalas aku buka profilnya tidak ada foto hanya lambang club sepakbola dunia, aku stalking nama akun di situ bertuliskan Raden Wijaya. Ah.... Sumpek ah sumpek. Aku tutup HP, bobok syantik aja. 

Baru beberapa menit terpejam, handphoneku kembali berdering... 

"Heeeem."

"Sudah tidur....?" kata seseorang di seberang sana.

"Udah..."

"Kok bisa telfon, ngigau ya?"

"Makanya jangan telfon, sudah tahu jam tidur masih saja ganggu. Maunya apa sih?" bentakku.

"Hehhehehe, iya selamat tidur. Assalammualaikum."

“Waalaikum salam,” jawabku dalam hati sembari mematikan ponselku. 

 

(Penulis adalah siswa SMK Darun Najah, Tambakboyo)

 

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)