Cerbung : BANYU BIRU (Part-2)

Cerbung : BANYU BIRU (PART 2)

Oleh: Ning Zulfania Tsuroyya (Siswa SMK Darun Najah, Tambakboyo)

 

 

Di sini Nawa....

Deru bising suara tembakan telah 3 hari 3 malam kami dengar tanpa henti.... Petugas telah berusaha menyelamatkan kami warga kampung yang sudah 15 hari menjadi tahanan mereka.... Mereka tinggi besar, membawa laras panjang.... Kasar suka membentak. Aku benci namun aku takut. Takut sekali mereka bisa sewaktu-waktu membunuhku dan juga warga yang lain di sini.

Malam hari, suara tembakan semakin menjadi.... Pelaku kriminal itu ada yang terluka. 

" Hei.... Ada dokter di sini...?" tanya salah satu dari mereka.

Kami semua diam... Tak ada satupun yang menjawab.

" Hooee... Siapa yang dokter di sini....?" tanya mereka lagi.

Kami masih diam... Tak ada satupun yang angkat tangaan.

" B*****h...." umpat mereka kemudian angkat senjata.

" Hentikan.... Saya mohon. Saya tidak dokter tapi saya bekerja di Puskesmas," kataku kemudian, meski aku sangat takut namun kali ini aku harus berani, demi mereka yang telah lanjut usia dan masih balita.

"Obati dia." katanya

"Saya tidak membawa apa2," jawabku.

"Seadanya...."

"Kalau kau mengijinkan... Ijinkan aku mencari daun antibiotik di hutan untuk pengobatan luka."

"Kau mau menipuku rupanya....!" Katanya sembari menamparku dan menginjak perutku. Sakit....

"Kawal aku...." jawabku terbata.

"Bangun...."

Meski sempoyongan, sambil memegang perutku, aku bangun.... Aku ingin keluar dari tempat ini. Aku ingin kabur.... Tanpa sepengetahuan mereka nanti.

...

Aku dan para penjahat itu mulai berjalan menyusuri hutan.... Semakin dalam aku masuk hutan...

"Tolong bantu aku cari daun yang seperti ini." kataku sembari menunjukkan gambar di buku kerjaku.

"Tolong Anda cari di sebelah sana, biar aku cari di sini. Kita harus cepat agar kawanmu bisa selamat," kataku modus.

"Kau jangan kabur... Kau bisa mati jika kabur."

"Iya cepatlah, kita tidak punya banyak waktu."

Dia pergi ke arah hutan sedang aku masih di tempat. Sambil akting mencari daun itu perlahan namun pasti aku menjauh dari mereka, langkahku pelan namun cepat.... Semakin jauh dan jauh... Hingga malam tiba dan aku tidak tau di mana, yang kutahu hanyalah aku di hutan belantara selama 3 hari dengan sejuta bahaya.

Aku menangis, aku ingat abah sama ibuku. Kakak dan adikku....

Aku takut. Aku lapar.... Perutku lebam karena injakan mereka.

Ya Robbana.... Jika engkau hendak mempertemukanku dengan kematian hari ini, tolong jaga ayah dan ibuku. Aku sudah tak mampu berjalan lagi.... Pandanganku kabur. Dan kemudian gelap....

...

Kurasakan ada tangan seseorang yang menepuk pipiku berkali-kali. Mataku masih terpejam dan berat untuk kubuka. Tangan itu semakin keras menepuk wajah dan badanku.

Perlahan mata kubuka.... Dalam kabur tampak cahaya yang sangat terang.... Ada sosok pria berkulit putih, beralis tebal.... Dia sangat tampan. Dan aku yakin dia pasti malaikat yang telah menjemputku.

Abah, ibu... Aku akan merindukan kalian.

"Ning...." ucap malaikat itu.

Dia terlalu bercahaya sehingga silau untukku lihat....

"Ai... Kau mendengarku. Bangunlah...."

Aku masih diam.... Bagaimana bisa aku menjawab malaikat.

"Bangunlah....kau mendengarku."

Aku masih diam....

Aku menatap wajah itu.... Dia bukan malaikat. Dia manusia yang memiliki cahaya di wajahnya.

Wajah putih bersih, dengan alis tebal.... Ketampanan khas orang Jawa. Berseragam hijau kecoklatan, lengkap dengan rompi pluru dan helm baja. Ah.... Aku pasti mimpi. Bagaimana mungkin ada malaikat bersenjata.

"Kau siapa....?" kataku lirih

"Alhamdulillah..." serunya.

"Kau manusia....?" tanyaku

"Apa aku kelihatan seperti siluman ..?" jawabnya

Kau terlalu tampan, untuk seorang siluman.

"Bangunlah, aku petugas. Aku menemukanmu pingsan di tengah hutan. Kaki dan badanmu terluka." Katanya.

Perlahan aku bangun.... Duduk di tanah beralaskan sarung di pos kecil di hutan.

"Boleh aku bertanya sesuatu....?"

Aku mengangguk.

"Kau salah satu warga kampung yang menjadi tahanan mereka...?"

Aku mengangguk....

"Baiklah..." jawabnya

"Aku bisa menunjukkan tempat di mana kami ditahan pak.... Tolong bebaskan saudara kami."

"Kami sudah berusaha.... Doakan ya."

"Minumlah... Tidak ada makanan di sini."

"Terima kasih pak."

"Ayo kita ke posko.... Sebelum kriminal itu menemukan kita...."

"Iya pak." Aku berusaha bangun, tapi kaki dan tubuhku terlalu lemas untuk bangun.

"Naiklah ke punggungku." Katanya.

"Tapi pak...."

"Tidak apa-apa naiklah...." katanya sambil jongkok.

Dengan tubuh gemetar dan hati tak karuan aku naik di punggungnya... Aku malu, bukankah dia orang asing yang kemudian menggendongku. Meski dia bukan orang yang halal menyentuhku, tapi aku sangat berterima kasih dia telah menyelamatkanku.

"Namamu siapa...?" pertanyaannya membuyarkan lamunanku.

"Nawa."

"Sepertinya bukan asli sini."

"Saya dari jawa pak."

"Sama"

"Bapak dari Jawa juga...?"

"Iya. Jawa Tengah."

"Saya Jawa Timur, Pak."

"Kau tau....?"

"Belum, Pak."

"Aku belum selesai ngomong..."

"Eh, iya maaf, Pak, hehehehe"

"Baru kali ini aku menggendong sesuatu selain amunisi. Dan kau jauh lebih ringan dari senjataku."

Aku diam....

"Bagaimana bisa kau lari dari mereka...."

"Dengan tipu muslihat, Pak."

"Dan kau tesesat setelahnya?"

"Iya, Pak."

"Bagaimana bisa kau ada di Tembagapura?"

"Saya mendapat tugas di Puskesmas, Pak. Baru 6 bulan saya di sini. Masih jauh, Pak....?"

"Sangat."

"Bapak nanti lelah menggendongku..."

"Tidak apa-apa. Sudah tugasku.."

"Bapak ini polisi atau tentara...?"

"Polisi..."

"Polisi Hutan...?"

"Bukan..."

"Polisi Militer..."

"Bukan juga...."

"Brimob...?

"Iya."

"Wah... Kereeen."

"Densus, Pak...?"

"Bukan."

"Pelopor, Pak...?"

"Bukan..."

"Terus apa, Pak....?"

"Lupa..."

"Kok lupa, Pak...?"

Dia diam.... Apa aku terlalu gapleki sampe dia capek.

"Maaf njih Pak.... Merepotkan."

"Tidak dimaafkan."

"Lho... Kok gitu?"

"Terserah aku...," jawabnya.

"Maaf, Pak...."

"Turunlah. Kau sudah aman. Duduk di sini, akan segera datang petugas medis."

"Iya, terima kasih, Pak."

"Sama-sama."

Kemudian dia pergi... Tak tau ke mana. Terima kasih, Pak... Lirihku dalam hati.

Dua hari setelah itu, warga telah dibebaskan oleh petugas. Kami sangat bahagia waktu itu. Kami dievakuasi ke suatu tempat yang lebih aman. Aku berada di gereja, bersama warga lain yang juga mengungsi. Aku membantu kegiatan di dapur umum, klinik medis yang disediakan petugas..

Setiap kali ada anggota petugas, bersenjata lengkap aku selalu memperhatikan dalam diam... Aku penasaran dengan wajah dibalik masker hitam itu. Bisa jadi dia manusia bercahya yang menolongku kemarin.

Kuperhatikan di bahu seragamnya... Pelopor. Bukan dia...

Densus... Bukan dia. Dia bilang bukan.

Lalu.... Ada petugas lain di rompi anti peluru mereka bertuliskan Gegana dengan logo walet hitam.

Aku tersenyum sendiri.... Bagaimana bisa aku mendadak gila seperti ini. Nawa, sadarlah.... Mungkin aku kesambet pas pingsan di hutan kemarin.

Dan, tiga hari setelah itu. Aku telah dipindah tugaskan kembali ke Jawa. Rasa syukur selalu kupanjatkan, atas segala nikmat yang Allah berikan. Dengan memberiku sehat, dan selamat sampai saat ini.

"Nawa," kata Dokter Devis, Kepala Puskesmas tempat aku bekerja.

"Iya, Pak."

"Aku tidak bisa mengantarmu, pergilah bersama Pak Partono. Jangan takut ada petugas yang mengawalmu."

"Iya, terima kasih atas bimbingannya selama ini, Pak," Kataku.

"Iya. Baik-baik di tempat barumu."

"Iya, Pak." 

 

Aku dan beberapa orang lain pergi dengan mobil kecil tanpa kap dia tasnya. Kami melewati jalan kecil menyusuri bukit dan hutan... Terlihat Puncak Jaya dari jauh. Selamat tinggal....

Dan, aku kembali dipertemukan dengan malaikatku.... Dalam perjalanan, dia yang sejak tadi mengawalku membuka masker penutup wajahnya. Meski kini ia tak terlihat begitu putih, dan bersih karena matahari, namun pesonanya sebagai perwira tak pernah pudar.

"Pak Brimob.." sapaku... Dengan senyum mengembang bak adonan donat.

"Nawa."

"Bapak ingat namaku?" 

"Masih," jawabnya. Dia tampak dingin, dan kaku.

Dia meletakkan senjata, dan membuka helm bajanya. Kemudian duduk di bawah bersandar dinding mobil.... Ia menghela nafas panjang...

Aku hanya diam...dan mengikutinya duduk di bawah. Karena bagiku kurang pantas jika aku duduk di atas sedangkan ada orang lain di bawah.

"Kau berani pulang ke Jawa sendiri?"

"Insya Allah, Pak."

----

"Pak...."

" Hemmm," jawabnya sambil terpejam.

"Boleh tahu bapak namanya siapa...?"

"Deni Prasetyo..."

"Nggih, Pak."

Setelah itu, tak ada lagi pembicaraan di antara kami. Sampai tiba di bandara kami semua turun.

"Nawa...," panggilnya.

"Iya, Pak."

"Panggil Mas saja."

"Biar apa, Pak?"

" Biar kelihatan muda. Hehe"

"Pancen tesik enem kok Pak."

"Nawa...."

"Iya."

"Jika nanti kita bertemu kembali, di suatu tempat yang berbeda. Kau boleh memanggilku."

Masya Allah... Mase kok syahdu banget.

"Hati-hati di jalan ya, selamat kembali ke Jawa. Aku juga rindu Jawa."

"Bapak juga hati-hati.... Jaga diri."

"Iya, Insya Allah. Doakan."

"Terima kasih, Pak... Jasa bapak akan selalu aku ingat."

Dia tersenyum.... 

Masya Allah senyume mase... Gawe wong kudu salto wae.

Ya Robb... Aku ikhlas jika Engkau menjadikan ia tulang punggungku suatu hari nanti. Hehehe

.

Tibalah saatnya aku meninggalkan tanah perantauan ini.... Semoga Allah memberikan kelapangan dan kemudahan untuk para warga yang hidup di daerah konflik... Memberi keselamatan untuk para prajurit dan perwira yang selalu siap siaga menjaga keutuhan negara ini. Jangan pernah menghakimi mereka para prajurit tanpa kau tahu bagaimana sisi kehidupan mereka di lapangan.

Kau yang mencela belum tentu bisa menggantikan mereka....

 

(bersambung...)

 

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)